Seluruh Ketua Umum SH Terate

ilmusetiahati.com – 1922 Ki Hadjar Hardjo Oetomo merintis SH Muda atau PSC (Pemuda Sport Club) sebahai wadah perjuangan para pemuda untuk bergerilya meraih kemerdekaan.

Tahun 1940an Ki Hadjar Hardjo Oetomo mulai jatuh sakit sehingga mulai tahun 1941 – 1943 Soemo Sodarjo anak angkat bungsu Ki Hadjar Hardjo Oetomo mendapat amanah sebagai Hofd Leader atau Ketua Pelatih SH Muda dan Ki Hadjar Harjo Oetomo tetap sebagai Dewan Kerohanian SH Pemuda Sport Club.

Kemudian Hassan Soewarno seorang pendekar andalah SH Pemuda Sport Club saat itu mendapat amanah sebagai Hofd Leader pada 1943 – 1945.

Tahun 1945 – 1951 Hardjo Mardjoet anak angkat kedua Ki Hadjar Hardjo Oetomo sebagai Hofd Leader terakir SH Pemuda Sport Club sebelum berubah menjadi Organisasi.

Masa Transisi Dari Perguruan ke Organisasi

25 Maret 1951 Murid murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo bermusyawarah bertempatkan pada kediaman Santoso Kartoatmodjo Jl. Dr. Soetomo 76, Madiun.

Musyawarah tersebut menghasilkan kesepakatan untuk terus melestarikan ajaran Ki Hadjar Hardjo Oetomo dan merubah SH Pemuda Sport Club yang sebelumnya berbentuk Paguron menjadi Organisasi Persaudaraan SH Terate.

Santoso Kartoatmodjo terpilih sebagai Ketua Umum pertama PSHT 1951 – 1953.

12 April 1952 Ki Hadjar Hardjo Oetomo wafat dan jenazahnya dimakamkan pada pemakaman umum (TPU) Kelurahan Pilangbango, Madiun.

Ki Hadjar Hardjo Oetomo meninggalkan seorang istri, Ny. Inem dan dua orang anak yang bernama Harsono dan Harsini.

13 September 1953 kembali terselenggara musyawarah bertempat pada kediaman Soetomo Mangkoedjojo Jl.Diponegoro 45, Madiun.

 Soetomo Mangkoedjojo mendapat amanah menggantikan Santoso Kartoatmodjo memimpin PSHT 1953 – 1956.

Baca Juga : R.M Sukoco Lawan Tanding R.M Imam Koessoepangat

1956 – 1958 Irsad Hadi Widagdo memimpin SH Terate saat inilah mulai tersempurnakanya jurus jurus SH Terate dan mulai terciptanya 90 Senam dasar.

1958 – 1965 Posisi Pemimpin kembali ke tangan Santoso Kartoatmodjo, saat ini Marsh SH Terate ciptaan Adi Yasco mulai diperkenalkan.

1965 – 1966 Kondisi perpolitikan memanas paska G30S/PKI dan banyak tokoh besar SH Terate yang hilang, sehingga PSHT untuk sementara vakum.

11 Agustus 1966 rapat pengurus pusat untuk menyelamatkan  dan mengaktifkan kembali SH Terate paska G30S/PKI maka perlu refreshing pengurus pusat.

Soetomo Mangkoedjojo mendapat amanah sebagai Ketua Umum PSHT 1966 – 1974.

Reorganisasi Pengurus Pusat SH Terate

Tahun 1974 Kongres I SH Terate menghasilkan keputusan Imam Koes Soepangat sebagai Ketua Umum dan Soetomo Mangkoedjojo sebagai Dewan Pusat PSHT.

1977 Kembali terselenggara Kongres II SH Terate dan melahirkan keputusan Badini asal Magetan Memimpin PSHT sementara Imam Koes Soepangat sebagai Dewan Pusat PSHT.

Pada Kongres ini mulai terpercayanya Tarmadji Boedi Harsono sebagai Ketua I Pengurus Pusat SH Terate periode kepengurusan 1977 – 1981.

Periode inilah mulainya perubahan uang mahar pengesahan yang awalnya berbentuk ketengan atau benggolan menjadi uang logam yang berlaku.

Baca Juga : PENGGELAPAN ASET YAYASAN SH TERATE, MULAI MUNCULKAN NAMA TERSANGKA

13 November 1981 Musyawaraah Besar (MUBES) III SH Terate dan terpilihlahTarmadji Boedi Harsono sebagai Ketua Umum dan Imam Koes Soepangat sebagai Dewan Pusat SH Terate.

Pada Mubes inilah mulai tersusunlah materi baku PSHT yaitu 36 Jurus dan 90 Senam Desar.

Pada periode ini mulai terbentuk juga Materi Jurus Toya kreasi Sipit Tri Susilo Haryono dan Senam Masal kreasi Imam Suyitno.

1985 SH Terate menggelar Mubes IV Madiun dan Tarmadji Boedi Harsono kembali menadapat amanah memimpin PSHT dan Imam Koes Soepangat tetap sebagai Dewan Pusat SH terate.

Tahun ini awal awal pembangungan Padepokan Agung Jl. Merak Nambang Kidul, Madiun.

Materi Baku SH Terate

 Mubes V SH Terate 1991 menghasilkan keputusan Tarmadji Boedi Harsono masih sebagai Ketua Umum dan Marwoto sebagai Dewan Pusat SH Terate.

Mubes VI SH Terate 1 – 3 September 2000 dan menghasilkan kesepakatan Tarmadji Boedi Harsono masih mendapat amanah sebagai Ketua Umum dan Marwoto sebagai Dewan Pusat PSHT.

SH Terate mangadakan Rakernas pada 16 – 17 Oktober 2009 sebagai bentuk tindak lanjut terbitnya SK Adart 2008 yang menghasilkan kesepakatan Tarmadji Boedi Harsono tetap sebagai Ketua Umum sekaligus sebagai Ketua Dewan Pusat SH Terate.

Untuk melengkapi keterbatasan Dewan Pusat maka Pengurus Pusat menggagas Dewan Pendekar yang beranggotakan sembilan Tokoh PSHT, periode inilah Muhammad Taufiq mulai terpercaya sebagai Ketua IV Pengurus Pusat PSHT.

10 April 2014 Tarmadji Boedi Haesono mengeluarkan SK Reorganisasi Pengurus Pusat SH Terate dan menunjuk Richard Simorangkir asal Sleman Yogyakarta sebagai Ketua Pusat SH Terate dan Tarmadji Boedi Harsono sebagai Dewan Pusat.

2014 Richard Simorangkir wafat dikediaman beliau Sleman, kemudian untuk sementara terpilihlah Ketua I Pengurus Pusat SH Terate Arief Soeryono.

Beliau terpilih sebagai PLT Ketua Pusat SH Terate hingga proses Parapatan Luhur selanjutnya siap.

11 – 12 Maret 2016 Terselanggarakanya Parapatan Luhur yang mengeluarkan keputusan menetapkan Muhammad Taufiq sebagai Ketua Umum dan R.B Wiyono sebagai Majelis Luhur untuk memimpin PSHT 5 tahun kedepan hingga parapatan luhur terselenggara kembali tahun 2021.

(ikrar,rizki)

Post a Comment

0 Comments

Skip to main content